sebuah kisah nyata
pertengkaran hebat suami istri yg gak sepantasnya dicontoh…apalagi
melibatkan anak2 … mohon dijadikan pelajaran..
Begini ceritanya…
Ratna adalah seorang ibu rumah tangga yg
selalu setia pd suaminya..dia selalu menunggu kedatangan suaminya pulang
dr kantor utk menyambutnya dgn cinta dan kasih sayang… suatu hari,
ratna ingin memasakkan makanan istimewa utk suaminya..dia menelpon
Handphone sang suami utk menanyakan apa makanan yg diinginkan nya hari
ini.. Aahh…ternyata pulsa ratna habis… dia berteriak pd tono, anaknya yg
lagi maen PS di lantai atas.. Ton…tolong telponin ke HP Papa mu, pulsa
mama habis nih…bilang Papa, “Mama nanyain mo makan apa papa hari ini…”
“iya ma…” jawab tono…
Tak lama kemudian tono turun…”udah 3 kali tono telpon..papa gak jawab ma..yg jawab malah cewek” ujar tono.. muka ratna merah padam..tapi dia berusaha menahan kemarahan di depan anaknya.. “ya sudah kamu naik ke atas” katanya..
sore sang suami pulang..tanpa ba…bi…bu… ratna lsg memukulnya dengan sapu di rumah..tanpa ampun.. sang suami berteriak teriak kesakitan… ratna tdk peduli lagi , kemarahannya memuncak….para tetangga berdatangan dan melerai…pak RT juga datang..setelah disabarkan.. ratna menanyakan pada suaminya..siapa wanita yg diselingkuhinya.. sang suami membantah…mereka saling tuduh..
Akhirnya tono dipanggil. “Ini saksinya..anakmu…3 kali dia menelpon hp mu…yg jawab pelacurmu itu..” ujar ratna kasar… “Bilang ton….apa bener kamu denger cewek ngangkat hp papa… !!!!” “i..i..i..yaaa.. pa…” “Hahh…bohong kamu,…!!!!!!..emang cewek itu bilang apa ?”… Di..di….di..aa bilang…: “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area..cobalah beberapa saat lagi….”
*******************************************************
Membaca kisah di atas, mungkin kita (para ibu2/istri) tertawa/ senyum2 sendiri. Mungkin banyak kejadian2 lain di dalam rumah tangga yang tanpa kita sadari adalah kesalahan kita sendiri.
Catatan ini bukan bermaksud mengurui hanya sekedar saling mengingatkan.
Karena kita adalah matahari dalam rumah kita yang selalu menyinari dan memberikan semangat para penghuninya.
Walau ada pepatah mulia yang mengatakan “surga ada di bawah telapak kaki ibu”, tapi kita menyadari ibu adalah manusia biasa yang bisa salah dan khilaf.
Diantara kesalahan-kesalahan yang terkadang dilakukan seorang istri sebagai berikut:
Tak lama kemudian tono turun…”udah 3 kali tono telpon..papa gak jawab ma..yg jawab malah cewek” ujar tono.. muka ratna merah padam..tapi dia berusaha menahan kemarahan di depan anaknya.. “ya sudah kamu naik ke atas” katanya..
sore sang suami pulang..tanpa ba…bi…bu… ratna lsg memukulnya dengan sapu di rumah..tanpa ampun.. sang suami berteriak teriak kesakitan… ratna tdk peduli lagi , kemarahannya memuncak….para tetangga berdatangan dan melerai…pak RT juga datang..setelah disabarkan.. ratna menanyakan pada suaminya..siapa wanita yg diselingkuhinya.. sang suami membantah…mereka saling tuduh..
Akhirnya tono dipanggil. “Ini saksinya..anakmu…3 kali dia menelpon hp mu…yg jawab pelacurmu itu..” ujar ratna kasar… “Bilang ton….apa bener kamu denger cewek ngangkat hp papa… !!!!” “i..i..i..yaaa.. pa…” “Hahh…bohong kamu,…!!!!!!..emang cewek itu bilang apa ?”… Di..di….di..aa bilang…: “nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area..cobalah beberapa saat lagi….”
*******************************************************
Membaca kisah di atas, mungkin kita (para ibu2/istri) tertawa/ senyum2 sendiri. Mungkin banyak kejadian2 lain di dalam rumah tangga yang tanpa kita sadari adalah kesalahan kita sendiri.
Catatan ini bukan bermaksud mengurui hanya sekedar saling mengingatkan.
Karena kita adalah matahari dalam rumah kita yang selalu menyinari dan memberikan semangat para penghuninya.
Walau ada pepatah mulia yang mengatakan “surga ada di bawah telapak kaki ibu”, tapi kita menyadari ibu adalah manusia biasa yang bisa salah dan khilaf.
Diantara kesalahan-kesalahan yang terkadang dilakukan seorang istri sebagai berikut:
1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita
membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat
romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam
sinetron-sinetron.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya.
Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan.
Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda.
Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak
patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah
wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya,
dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
tetapkan untuknya.
Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.
Seorang istri shalihah akan senantiasa
menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja
bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan
dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan taat kapan pun,
dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka
ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.
3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar
seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada
dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada
selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi,
suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.
Salah satu bentuknya adalah cemburu
terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama
dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang,
sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia
tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang
tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan
orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah,
bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.
Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan
dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga ‘pernikahan antar
keluarga’. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami
adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik
dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami
akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya
dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.
4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias,
berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar
rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor,
mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan,
atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh
berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya
yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor,
lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan
dengan aroma dapur yang menyengat.
Jika keadaan ini terus menerus dipelihara
oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka
menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya,
berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang
telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal
suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.
5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu
memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa
yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami,
meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi
kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.
Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa
terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang
diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan
kekurangan. Sifat qona’ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah
kepadanya sangat jauh dari dirinya.
Seorang istri yang shalihah tentunya
mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani
suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima
kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas
nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah,
nikmat Allah akan bertambah.
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”
6. Mengingkari kebaikan suami
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.”
Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.
Ajaib� !! wanita sangat dimuliakan di
mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali
lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi
penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya
mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah,
tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat
suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa,
kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari
seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat
kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari
(5197).
Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita
berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita� kita saling
introspeksi � apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada
suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya� maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat� satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan� masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu� bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya� maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bertobat� satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan� masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu� bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?
“Tidaklah seorang isteri yang menyakiti
suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang
menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak
kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang
bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At Tirmidzi, hasan)
Wahai saudariku, mari kita lihat� apa
yang telah kita lakukan selama ini � jangan pernah bosan dan henti untuk
introspeksi diri� jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari
membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya� tentu sudah Engkau
ketahui.
Jika suatu saat, muncul sesuatu yang
tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan
semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.
“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR.Ahmad)
7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan,
tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang
istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka
mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan
menyakiti (perasaan si penerima).” [Al Baqarah: 264]
Abu Dzar radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan,
bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Ada tiga
kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan
memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk
mereka adzab yang pedih.”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga
kali.” Lalu Abu Dzar bertanya, “Siapakah mereka yang rugi itu, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke
bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya
dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. ” [HR. Muslim]
8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak
kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan
mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung
jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.
Ketika suami pulang dari mencari nafkah,
ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum
siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi terus
menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka
menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.
9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia
merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat
dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa
curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu
ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari
praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang
tercela.
Cemburu yang disyariatkan adalah
cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya,
misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih
mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda
yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika
hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang
tercela.
Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak
berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan
mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa
nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan,
kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang
disangkakan istri kepada dirinya.
10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap
perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya
konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya
senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak
menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan
mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri
selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak
bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.
Demikian beberapa kesalahan-kesalahan
istri yang terkadang dilakukan kepada suami yang seyogyanya kita hindari
agar suami semakin sayang pada setiap istri. Semoga keluarga kita
menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.
amin…
amin…
Semoga bermanfaat.
Sumber : http://akbar86.wordpress.com/2009/12/16/10-kesalahan-yang-sering-dilakukan-istri/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar